Di Antara Kekambuhan dan Harapan: Review Pendekatan Pemulihan ODGJ Berat Berbasis Komunitas
Oleh : Yosua Alberter Simamora, S.Trs.Sos
Pada dasarnya tidak ada ada orang yang ingin dirinya atau anggota keluarganya sakit, namun ada beberapa kejadian atau bahkan alasan yang tidak perlu dikulik lebih dalam mengapa gangguan terjadi di diri atau lingkungan kita. Hal ini termasuk bagi gangguan jiwa. Perjalanan menerima dan pemulihan sering menjadi tantangan besar dan melelahkan bagi pasien dan keluarga. Banyak dimensi masalah yang dialami bukan hanya perihal kepatuhan obat. Berdasarkan pengalaman sebagai pekerja sosial medis dan pandangan praktik, berikut ini opsi cara penanganan Orang dengan Skizofrenia (ODS) atau ODGJ berat di wilayah yang relapse, sulit minum obat, dan keluarga sudah lelah merawat pasien:
Tindakan ke pasien:
- Beri pujian ke ODGJ
- Dengarkan dan validasi kesulitan pasien kenapa tidak mau minum obat, bahas dan beri pandangan objetif dan pro pasien secara satu per satu sesuai alasan pasien. Misal karena trauma, efek samping (lemas, gemuk, gemetar, dll)
- Tetapkan tujuan jangka pendek bukan panjang, contoh bukan harus minum obat tiap hari tapi supaya bisa tidur, gejala halusinasi/waham lebih tenang, tidak membahayakan diri dan sekeliling (harm reduction)
- Beri role model contoh pasien yang semakin membaik karna minum obat bahkan produktif
- Support Group dengan penyintas lainnya di rehabilitasi
- Beri pendekatan spiritual yang tidak menghakimi. Misal jangan katakana gangguan jiwa karena kurang iman tapi Tuhan bekerja dalam proses pemulihan
Tindakan Ke Keluarga:
- Edukasi cara merawat pasien dan tanda kekambuhan
- Dengarkan dan validasi kesulitan keluarga yang burnout, putus asa, kesulitan uang, dsb
- Petugas setempat/RT/RW/Kepala Dusun dan kader bersama-sama memberi pendampingan ke keluarga
- Identifikasi bantuan yang dibutuhkan keluarga missal, rumah yang tidak layak perlu bantuan rutilahu, bantuan PKH, jika miskin masuk ke DTSEN, dll
- Pastikan dan fasilitasi pasien serta keluarga mempunyai BPJS terlebih jika keluarga layak menerima PBI (Penerima Bantuan Iuran)
- Ajak kerja sama keluarga dengan keluarga besar.
- Keluarga mencatat nomor penting jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
- Informasikan layanan healing119 dari kemenkes jika keluarga butuh dukungan secara online
- Beri pendekatan spiritual yang tidak menghakimi.
Dukungan dari Lingkungan:
- Hilangkan stigma dan diskriminasi. Ajarkan ke anak-anak dan segala usia untuk tidak mengejek pasien
- Beri peluang pasien untuk terlibat di lingkungan missal ajak kegiatan warga, pengajian di masjid, ajak “nongkrong”, dsb
- Di beberapa kejadian, ODGJ di wilayah butuh sosok yang “kharismatik” yang lebih didengar dari pada keluarga sendiri. Atau sosok itu bisa jadi penengah bagi keluarga dengan pasien.
Tindakan Tingkat lanjut oleh Fasilitas Kesehatan dan Pemerintah:
- Obat Long-Acting Injection
- Jejaring komunikasi kasus pasien dari tingkat individu/keluarga > RT/RW> Kelurahan > Kecamatan > Fasilitas Kesehatan Pertama > Fasilitas Kesehatan Lanjutan > Kota/Kabupaten. Hal ini agar dapat penanganan dan edukasi langsung bagi keluarga/pasien yang membutuhkan
- Visitasi atau control dan monitoring perkembangan pasien
- Bantuan Respite care bagi keluarga yang burnout merawat pasien. Respite care adalah layanan perawatan sementara yang memberikan jeda atau istirahat bagi pengasuh utama (caregiver), agar mereka bisa beristirahat, bepergian, atau mengurus urusan pribadi, sementara orang yang dirawat tetap mendapatkan perawatan profesional yang aman dan memadai
- Rujukan pasien ke Sentra/Panti/Balai Rehabilitasi/dll jika pasien memiliki indikasi menerima rujukan tersebut
- Fasilitasi Bantuan pemerintah, bantuan administrasi pendukung dll bagi pasien dan keluarga
- Sistem bantuan tindak gawat darurat psikiatri bagi pasien gaduh gelisah misal bantuan Public Safety Center (PSC 119)
- Pemerintah pusat perlu memfasilitasi Sentra/Panti/Balai Rehabilitasi/dll baik pemerintah/swasta yang terlalu penuh bahkan kurang layak standar kesehatannya
- Bentuk tim kader kesehatan jiwa di tingkat kelurahan/kecamatan. Beri pelatihan ke Kader jika ada pasien gaduh gelisah, skrining jika ada warga yang terindikasi dan pelatihan lainnya. Serta monitoring progress giat kader di wilayah. Buat ruang komunikasi melalui media chat.
- Cukupkan ketersediaan obat di fasilitas kesehatan primer agar pasien dan keluarga tidak perlu jauh-jauh mengakses pengobatan.
Relapse tidak sama dengan gagal tapi bagian dari proses pemulihan. Pulih (recovery) berfokus pada manusia. Istilah “pulih” lebih baik digunakan dari pada kata “sembuh” atau cure di ranah kesehatan jiwa. Pulih berarti: Gejala bisa masih ada (ringan/terkendali); Bisa tetap minum obat atau terapi; Bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari; Bisa relapse tapi lebih cepat ditangani; Memiliki harapan, peran, dan makna hidup.
Harapan itu lahir bukan dari kesempurnaan, tapi dari keberanian pasien, keluarga dan wilayah untuk tidak menyerah dan terus menumbuhkan harapan tersebut. Selalu ada harapan untuk kamu!
