​Menjaga Warisan Rasa: Mengapa Kehilangan Teman Sebaya Bisa Memicu Kerentanan Kesehatan Lansia?


​Seiring bertambahnya usia, tantangan kesehatan yang dihadapi seseorang tidak lagi melulu soal penurunan fungsi fisik. Dalam dunia geriatri, terdapat sebuah istilah yang dikenal sebagai Geriatric Syndromes (Sindrom Geriatri). Berdasarkan referensi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, sindrom ini merupakan sekumpulan gejala dan masalah kesehatan akibat proses penuaan pada individu berusia di atas 60 tahun.

​Uniknya, Sindrom Geriatri sering kali tidak menunjukkan gejala spesifik. Penyakit ini kerap menyamar dalam bentuk penurunan fungsi kognitif atau mudah lupa (dementia), ketidakstabilan fisik yang menyebabkan risiko jatuh (instability), efek samping akibat polifarmasi atau intervensi medis (iatrogenic), hingga perasaan terasing atau tersisihkan (isolation).

​Pertanyaan menarik yang kerap muncul adalah: mengapa perasaan tersisihkan atau terisolasi secara sosial masuk ke dalam klasifikasi masalah klinis geriatri? Apa dampak nyatanya bagi kesehatan lansia?

​Sebuah Refleksi Kasus: Kerinduan yang Tak Tergantikan

​Untuk memahami korelasi ini, mari kita refleksikan sebuah kasus nyata. Seorang pasien, sebut saja Tuan X, dirujuk ke Medical Social Worker (MSW) setelah didiagnosis mengalami stroke hemoragik (pecah pembuluh darah di otak).

​Saat melakukan asesmen awal dan konseling dengan sistem sumber terdekat (keluarga), terungkap sebuah fakta psikososial yang mendalam. Sebelum terserang stroke, Tuan X kerap mengulang cerita yang sama: ia sangat merindukan masa remajanya, masa kedewasaannya yang dinamis, serta segala nostalgia masa lalu bersama teman-teman sebayanya.

​Secara kasat mata, kehidupan Tuan X tampak sempurna. Kondisi sosial-ekonomi keluarganya sangat mapan, anak dan cucunya sangat perhatian serta aktif berinteraksi, dan ia sendiri masih produktif menjadi pengurus di kelompok pengajian. Namun, ada ruang kosong yang gagal diisi oleh lingkungan saat ini. Ruang kosong itu ialah kelompok bermain masa mudanya.

​Sebagian besar dari sahabatnya telah tiada atau sedang sakit keras. Nilai sejarah masa muda yang melekat pada sahabat-sahabatnya itulah yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun, bahkan oleh keluarga kandungnya sendiri.

​Sekat Komunikasi dan Kerinduan akan Kesetaraan

​Mengapa kehadiran keluarga besar belum cukup mengobati kerinduan tersebut? Jawabannya terletak pada dinamika hubungan. Di dalam internal keluarga, komunikasi sering kali terbentur oleh hierarki, adat, dan nilai-nilai kesopanan yang formal—atau dalam istilah masyarakat Jawa dikenal dengan rasa ewuh pakewuh (sungkan).

​Tuan X merindukan komunikasi yang setara tanpa sekat, sebuah sapaan hangat khas masa muda seperti, "Maneh mah euy ah.. hanas nungguan, cenah rek bareng meuli kueh balok bari ngopi" (Kamu ini bagaimana.. percuma ditunggu, katanya mau bareng beli kue balok sambil ngopi). Ia merindukan sapaan spontan, penuh canda, dan tanpa jarak dari teman sebaya yang senasib dan sepenanggungan dalam melintasi zaman.

​Dalam perspektif medis, rasa rindu dan kesepian ini tentu tidak serta-merta menjadi penyebab tunggal dari serangan stroke yang dialaminya—rekam medis fisik tetap harus dikaji secara mendalam. Namun, secara psikososial, tekanan emosional akibat kehilangan peer group (kelompok sebaya) ini menjadi faktor pemicu (trigger) stres kronis yang memperburuk kondisi fisik pasien.

​Silaturahmi sebagai Terapi Psikososial

​Kasus Tuan X menjadi pengingat penting bagi kita semua. Menjaga jalinan silaturahmi dengan teman lama, sahabat sepermainan, dan rekan sebaya bukanlah sekadar pengisi waktu luang. Di usia senja, silaturahmi tersebut bermutasi menjadi sebuah terapi psikososial yang krusial untuk menjaga stabilitas mental dan fisik.

​Melalui ruang interaksi sebaya, lansia mendapatkan kembali identitasnya, merasakan penerimaan yang utuh, dan mampu melepaskan beban emosional tanpa takut dihakimi atau dibatasi oleh formalitas keluarga.

​Menyadari betapa pentingnya menjaga kedamaian hati dan hubungan antarmanusia, mari kita saling merawat ruang silaturahmi ini. Menyambut momentum suci Ramadhan yang penuh berkah, saya memohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf yang sengaja maupun tidak sengaja dilakukan.

​Teriring doa tulus, semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan, kelancaran, keikhlasan, serta kekhusyukan dalam menjalankan ibadah, hingga Allah SWT melimpahkan rida dan ampunan-Nya kepada kita semua. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin


penulis :  Irwan Purwa Dharma Om Blangkon

sumber gambar : canva.com/@reallygreatsite

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama