(Disclaimer: Semua yang tertulis turut terlibat opini pribadi penulis. Karena Republik Indonesia adalah negara yang menjujung tinggi HAM, sudah sewajarnya opini penulis ini lumrah adanya dengan tujuan positif bukan untuk menjatuhkan pihak siapapun.)
Kalau lihat dijudulnya mungkin ada yang merasa janggal, mengapa hanya sampai pada posisi bertahan, karena manusia sejati harus berkembang. Pendapat ini tepat, namun ada momen ketika kita tidak memiliki sumber daya yang cukup, bertahan sudah langkah yang luar biasa. Bukan karena masalah pribadi, tapi sering kali sistem yang membuat tidak bisa berkembang.
Bagaimana mau berkembang jika kuliah semakin mahal namun syarat bekerja harus berbekal ijazah. Bagaimana mau berkembang kalau untuk makan saja susah. Pinjaman hutang menjadi solusi pahit yang harus ditempuh dan harus menanggung beban bertahun-tahun.
Sejahtera menjadi keadaan ilusi atau khayalan belaka.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), destruktif adalah kata sifat yang berarti bersifat merusak, memusnahkan, atau menghancurkan. Maka Era Destruktif adalah masa dimana banyak aspek tatanan kehidupan manusia yang semakin rusak dan hancur.
Aspek ekonomi, contohnya rupiah yang sudah lemah tapi makin melemah, harga barang, bahan makanan, kebutuhan naik, biaya pendidikan mahal apalagi jika mengejar kualitas pendidikan. Berlindung dengan skema “efisiensi” namun akhirnya rakyat lah yang menjadi korban.
Aspek sosial politik agama, contohnya semakin hilangnya nilai integritas bagi pempimpin institusi dan pemerintah. Hal yang salah diusahakan agar terkesan benar, hal yang benar ditekan supaya yang salah berkuasa (silahkan refleksikan bagian ini pribadi, anda pasti paham apa yang penulis maksud). Korupsi merajalela, dianggap lumrah dan normal bagi pemangku kepentingan. Nilai agama hanya sebagai kosmetik untuk meningkatkan citra namun implementasi jauh dari nilai kebenaran.
Banyak sekali kondisi destruktif yang bertengger di setiap berita media sosial, ironinya TIDAK ADA PERUBAHAN bahkan semakin bertambah berita buruk.
Coping tiap orang dalam menghadapi krisis ekonomi berbeda-beda, namun sebisa mungkin pasti kita akan mencari kenikmatan pribadi. Penjualan kopi meningkat, caffe makin menjamur, tempat hangout estetik menjadi idola padahal bisa saja sebenarnya kondisi ekonomi orang tersebut sedang tidak baik-baik saja. Hal ini disebut Efek Lipstik (Lipstick Effect). Ini adalah teori ekonomi dan psikologi yang menjelaskan mengapa masyarakat cenderung membeli barang-barang kecil yang mewah atau memuaskan diri (seperti kosmetik, pakaian terjangkau, atau kopi premium) di masa-masa krisis atau ketidakpastian ekonomi, alih-alih melakukan pembelian besar seperti mobil atau rumah.
Teori ini dipopulerkan oleh Leonard Lauder (mantan Chairman Estée Lauder) setelah ia menyadari bahwa penjualan lipstik perusahaannya justru melonjak selama masa resesi ekonomi awal tahun 2000-an dan masa Great Depression di tahun 1930-an. Alasannya membeli barang kecil memberikan dorongan dopamin (rasa senang) yang cepat dan terjangkau untuk mengurangi stres akibat tekanan ekonomi. Ini menjadi cara bagi seseorang untuk tetap memanjakan diri dan mempertahankan identitas mereka di tengah keterbatasan anggaran untuk pengeluaran besar.
Lawan kata dari destruktif adalah konstruktif yang artinya membangun. Perlu respon kontruktif dalam menyingkapi kondisi krisis ini. Namun sesuai judul artikel ini, yang penulis mau fokuskan adalah pada kondisi “bertahan”.
Accept / Menerima
Terimalah fakta bahwa banyak keadaan dihidup ini yang terjadi dan hanya bisa kita terima apa adanya sebagai subjek pasif tanpa perlu fokus pada “mengapa”. Karena banyak hal diluar kendali kita. Fokuslah pada apa yang bisa ada kendalikan seperti cara pandang, penggunaan sosial media pribadi, harapan, ekspektasi, respon ucapan, tindakan, dsb. Sehingga energi kita tidak dibuang percuma
Reframing dan Adaptasi
Belajarlah untuk mencari sudut pandang lain (reframing) dari masalah yang dihadapi untuk lebih berkembang sehingga lebih optimal dalam mencari alternatif solusi merespon masalah (adaptasi). Misal jika motormu sedang rusak, cobalah berpikir ini adalah kesempatan untuk kamu lebih sehat dengan berjalan kaki (tentu jika jaraknya tidak jauh). Atau jika restoran yang kamu suka ternyata tutup dan harus membeli makanan di warung, anggaplah tindakan ini untuk membangun UMKM supaya mereka juga bisa bertahan dan merasakan perputaran ekonomi. Kamu bisa kembangkan reframing dan adaptasi ini sesuai nilai pribadimu.
Berdasarkan pengalaman saya sebagai pekerja sosial media di ranah kesehatan jiwa, hal-hal tersebut cukup membantu manajemen stres seseorang dalam menghadapi tantangan atau masalah.
Jangan salahkan dirimu jika sulit berkembang, jika merasa tabunganmu tidak terkumpul, atau jika keinginanmu tidak kian tercapai. Kemiskinan struktural benar adanya terjadi di Era Destruktif ini. Hargai dan berterima kasihlah pada dirimu karena kamu sudah berjuang.
Sumber :
KBBI
Kompas.com pada artikel “Mengenal Fenomena Lipstick Effect, Kenapa Orang Tetap Belanja saat Ekonomi Sulit?“ diakses 31 Mei 2026.
Penulis:
Yosua A Simamora (Pekerja Sosial Medis)
